*KEISTIMEWAAN ILMU AQIDAH*
Setelah kita menyebutkan pada pembahasan yang lalu, bahwa keistimewaan Aqidah :
1. Pertama kali yang diwajibkan atas mukallaf adalah mengetahui ilmu aqidah.
2. Syarat diterimanya ibadah.
3. Aqidah menjadi sebab diterimanya ketaatan.
4. Intisari dakwah para nabi.
Dengan mempelajari ilmu Aqidah maka kita akan mengetahui *tujuan penciptaan jin dan manusia.* Tujuan penciptaan keduanya adalah untuk mentauhidkan Allah Ta’ala, beribadah hanya kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.
Allah Ta’ala berfirman:
{وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون} [الذاريات: ٥٦]
Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahku. (QS Ad zariyat : 56)
Yakni Agar seluruh hidup mereka menjadi ibadah kepada Allah Ta’ala.
> Atsar amalil qolbi ala ibadati dzikri wa du’a hal : 9
Dan melalui ayat ini, Dia berbicara tentang hikmah penciptaan jin dan manusia, tentang keutamaan beribadah kepada Allah, serta pengaruhnya terhadap kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Juga tentang akibat berpaling dari ibadah kepada Allah dan dampaknya terhadap kesengsaraan di dunia dan akhirat.”
> Adabul Mauidhoh hal : 36
Ibadah memiliki banyak jenis, di antaranya: shalat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, menepati janji, amar ma’ruf nahi munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada hewan, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, serta hamba sahaya dari kalangan manusia serta hewan yang dimilikinya. Juga termasuk ibadah adalah doa, dzikir, membaca (Al-Qur’an), mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, kembali kepada-Nya dengan penuh ketundukan, serta ibadah lainnya seperti menyembelih kurban, bernazar, meminta pertolongan, dan memohon perlindungan.
Maka wajib mengikhlaskan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya. Barang siapa yang mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, seperti berdoa kepada selain-Nya, menyembelih atau bernazar untuk selain-Nya, meminta pertolongan atau perlindungan kepada orang mati, orang yang tidak hadir, atau bahkan kepada orang hidup dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah, maka ia telah melakukan syirik besar. Itu adalah dosa yang tidak akan diampuni kecuali dengan taubat.
Baik ibadah tersebut ditujukan kepada berhala, pohon, batu, nabi, atau wali, baik yang masih hidup maupun sudah mati—seperti yang terjadi pada kuburan-kuburan yang dijadikan tempat peribadatan di masa kini—Allah tidak akan meridhai jika ada sesuatu yang disekutukan dalam ibadah kepada-Nya, baik itu malaikat yang dekat dengan-Nya, nabi yang diutus, wali, atau siapa pun selain mereka.
> Al Irsyad ila shohil i’tiqad wa radd ila ahli syirki wa ilhad hal : 32
Hikmah penciptaan jin dan manusia adalah perintah untuk beribadah, namun di dalamnya tidak terdapat dalil bahwa Allah membutuhkan ibadah mereka, atau bahwa ibadah mereka memberi manfaat kepada-Nya atau menambah kerajaan-Nya, atau semacamnya. Sebaliknya, Dia adalah Maha Kaya, sedangkan mereka adalah makhluk yang fakir, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
: {يا أيها الناس أنتم الفقراء إلى الله والله هو الغني الحميد} [فاطر:١٥] .
“Wahai manusia! Kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.’ (Fathir: 15).
> I’tiqad Ahlisunnah hal : 12
Allah menciptakan mereka bukan karena membutuhkan mereka—bukan karena Dia memerlukan pertolongan, bantuan, dukungan, atau perlindungan dari mereka, Maha Suci Dia dari segala kekurangan. Sebaliknya, Dia menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya.
Merekalah yang membutuhkan ibadah, karena ibadah menghubungkan mereka dengan Allah dan menjalin hubungan mereka dengan Rabb mereka. Ibadah adalah ikatan antara hamba dan Tuhannya, yang mendekatkan mereka kepada Allah serta mendatangkan pahala dan balasan dari-Nya.
Maka, ibadah adalah kebutuhan bagi makhluk, bukan kebutuhan bagi Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya:
(إن تكفروا أنتم ومن في الأرض جميعا فإن الله لغني حميد) [إبراهيم: ٨]
“Jika kalian dan semua yang ada di bumi mengingkari (Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’ (Ibrahim: 8)”
> At ta’liqot Al Mukhtasoroh ala matnil Aqidah thohawiyyah hal : 39
{وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون} [الذاريات: ٥٦]
“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahku.” (QS Ad zariyat : 56)
Cukuplah ayat ini sebagai dalil tentang kemuliaan ibadah.
Betapa agungnya dua perkara (ilmu dan ibadah) yang menjadi tujuan penciptaan dunia dan akhirat! Maka sudah sepantasnya seorang hamba tidak disibukkan kecuali dengan keduanya, tidak bersusah payah kecuali demi keduanya, dan tidak memandang kecuali kepada keduanya. Segala sesuatu selain keduanya (ilmu dan ibadah) adalah kebatilan yang tidak membawa kebaikan dan kesia-siaan yang tidak menghasilkan apa pun.
Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka ketahuilah bahwa ilmu adalah diantara 2 mutiara yang paling mulia dan paling utama. Namun, seorang hamba tetap membutuhkan ibadah bersama ilmu, jika tidak, maka ilmunya akan menjadi seperti debu yang beterbangan.
> Al akhlak dzakiyyah fi adabi Thalib Al mardhiyyah hal : 40
Faedah yang bisa kita ambil dari penjelasan diatas adalah :
1. Dengan mempelajari Aqidah kita akan mengetahui tujuan penciptaan jin dan manusia yakni untuk beribadah bukan untuk tujuan yang lainnya.
2. Ibadah akan berpengaruh terhadap kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat.
3. Berpaling dari ibadah akan berpengaruh terhadap kesengsaraan di dunia dan akhirat.
4. Ibadah memiliki banyak jenisnya maka wajib ibadah-ibadah tersebut ikhlas kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya. Barangsiapa yang mempersembahkan ibadah kepada selainNya maka ia telah melakukan syirik besar.
5. Allah Ta’ala maha kaya tidak butuh ibadah seorang hamba.
6. Hendaknya seorang hamba fokus di dunia ini untuk ilmu dan ibadah.
📝 Arie Wibowo, SE
Batang, 26 Ramadhan 1446 H
___________________________________
╰┈➤ ⓘ *_Faedah Islami_ 📚*