
AR-RAHMĀN dan AR-RAHĪM
بسم الله الرحمن الرحيم
Budi Harjo Abu Ilyasa
Setiap kali seorang hamba membuka mushaf, setiap kali ia menegakkan shalat, hampir selalu ia memulai dengan kalimat yang penuh makna: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ. Dua nama Allah ini—Ar-Rahmān dan Ar-Raḥīm—bukanlah sekadar sebutan, melainkan pintu masuk untuk mengenal keluasan rahmat Allah ﷻ.
Para ulama menjelaskan bahwa memahami makna kedua nama ini merupakan salah satu kunci terbesar dalam perjalanan seorang hamba menuju Rabb-nya. Rahmat Allah adalah sumber kehidupan, pengampunan, hidayah, bahkan kebahagiaan abadi di akhirat. Tidak heran jika Allah menegaskan dalam firman-Nya:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. al-A’raf : 156).
Di sinilah letak pentingnya seorang hamba yang mengenal Ar-Rahmān, ia tidak akan pernah berputus asa dari ampunan Allah. Dan seorang hamba yang mengenal Ar-Raḥīm, ia akan selalu berjuang agar mendapatkan rahmat khusus yang hanya Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Maka, pembahasan tentang nama Allah Ar-Rahmān dan Ar-Raḥīm bukan hanya sebuah kajian ilmu, melainkan juga refleksi batin, bagaimana kita bersyukur atas rahmat umum Allah yang meliputi dunia, dan bagaimana kita meraih rahmat khusus-Nya yang menuntun ke surga.
Untuk itu, mari kita menelusuri bagaimana Al-Qur’an menyebut kedua nama agung ini, serta bagaimana para ulama tafsir dari generasi awal hingga muta’akhkhirīn menjelaskan kedalaman maknanya.
Allah ﷻ berfirman :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Fātiḥah: 1)
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Raḥmān. Dengan nama apa saja kamu menyeru, Dia mempunyai al-Asmā’ul Ḥusnā.” (QS. al-Isrā’: 110)
Imam Ath-Ṭabarī (w. 310 H) dalam ‘Jāmi’ al-Bayān’ menjelaskan :
الرَّحْمَنُ، الرَّحْمَةُ وَاسِعَةٌ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ
“Ar-Rahmān adalah yang melimpahkan karunia kepada seluruh makhluk-Nya.” (Jāmi‘ al-Bayān, 1/134)
Imam Al-Baghawī (w. 516 H) juga menjelaskan :
الرَّحْمٰنُ أَبْلَغُ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى الصِّفَةِ مِنَ الرَّحِيمِ، فَالرَّحْمَنُ عَامٌّ، وَالرَّحِيمُ خَاص
“Ar-Rahmān lebih kuat dalam menunjukkan sifat daripada Ar-Raḥīm. Rahmat ada yang umum dan ada yang khusus. Rahmat umum adalah makna Ar-Rahmān, sedangkan rahmat khusus adalah makna Ar-Raḥīm.” (Ma‘ālim at-Tanzīl, 1/47)
Imam Al-Qurṭubī (w. 671 H) berkata :
الرَّحْمٰنُ لا يُسَمَّى بِهِ غَيْرُ اللَّهِ تَعَالَى، إِذْ هُوَ الَّذِي وَسِعَتْ رَحْمَتُهُ كُلَّ شَيْءٍ، وَالرَّحِيمُ قَدْ يُسَمَّى بِهِ غَيْرُه
“Ar-Rahmān tidak boleh disematkan kepada selain Allah, karena ia nama khusus yang menunjukkan rahmat yang meliputi segala sesuatu. Adapun Ar-Raḥīm bisa juga digunakan untuk selain Allah (seperti sifat Nabi ﷺ).” (Tafsīr al-Qurṭubī, 1/102)
Imam Ibnu Katsīr (w. 774 H) :
الرَّحْمٰنُ صِفَةٌ دَالَّةٌ عَلَى الذَّاتِ، وَالرَّحِيمُ صِفَةٌ دَالَّةٌ عَلَى الْفِعْلِ، فَالأوَّلُ وَصْفٌ لَهُ، وَالثَّانِي وَصْفٌ لِفِعْلِه
“Ar-Rahmān menunjukkan sifat Allah, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan perbuatan Allah kepada makhluk-Nya. Jadi Ar-Rahmān adalah sifat, sementara Ar-Raḥīm adalah pengaruh rahmat-Nya.” (Tafsīr Ibn Katsīr, 1/21)
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah (w. 728 H) :
الرَّحْمٰنُ رَحْمَتُهُ عَامَّةٌ، وَالرَّحِيمُ رَحْمَتُهُ خَاصَّةٌ بِالْمُؤْمِنِينَ
“Ar-Raḥmān, rahmat-Nya bersifat umum; sedangkan Ar-Raḥīm, rahmat-Nya khusus bagi orang-orang beriman.” (Majmū’ al-Fatāwā, 17/67)
Iman Al-Ghazālī (w. 505 H) :
الرَّحْمٰنُ هُوَ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَى الْبَرِيَّةِ بِنِعَمِ الدُّنْيَا، وَالرَّحِيمُ هُوَ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ بِنِعَمِ الْآخِرَة
“Ar-Raḥmān adalah Dzat yang telah menganugerahkan kepada seluruh makhluk kenikmatan-kenikmatan dunia, sedangkan Ar-Raḥīm adalah Dzat yang menganugerahkan kepada orang-orang beriman kenikmatan-kenikmatan akhirat.” (al-Maqṣad al-Asnā, hlm. 48)
Imam Ibnu al-Qayyim (w. 751 H) :
فالرحمن دَالٌّ عَلَى الصِّفَةِ القَائِمَةِ بِهِ، وَالرَّحِيمُ دَالٌّ عَلَى تَعَلُّقِهَا بِالْمَرْحُومِ، فَالأوَّلُ لِلصِّفَةِ، وَالثَّانِي لِلْمَفْعُول
“Ar-Rahmān menunjukkan sifat yang melekat pada Dzat Allah, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan keterkaitan sifat itu dengan makhluk yang dirahmati. Ar-Rahmān adalah sifat-Nya, Ar-Raḥīm adalah perbuatan-Nya.” (Badā’i‘ al-Fawā’id, 1/24)
Syaikh As-Sa‘dī (w. 1376 H) :
الرَّحْمٰنُ ذُو الرَّحْمَةِ الْوَاسِعَةِ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، وَالرَّحِيمُ رَحْمَتُهُ خَاصَّةٌ بِالْمُؤْمِنِينَ
“Ar-Rahmān menunjukkan sifat rahmat yang luas, meliputi seluruh makhluk. Ar-Raḥīm menunjukkan sifat rahmat yang khusus untuk orang-orang beriman.” (Tafsīr As-Sa‘dī, hlm. 48)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimīn (w. 1421 H) :
الرَّحْمٰنُ صِفَةٌ ذَاتِيَّةٌ، وَالرَّحِيمُ صِفَةٌ فِعْلِيَّةٌ، فَالرَّحْمٰنُ دَالٌّ عَلَى ذَاتِهِ الْمُتَّصِفَةِ بِالرَّحْمَةِ، وَالرَّحِيمُ دَالٌّ عَلَى إِصَالِهَا إِلَى مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ
“Ar-Rahmān adalah sifat dzātiyyah (melekat pada Dzat Allah), sedangkan Ar-Raḥīm adalah sifat fi‘liyyah (terkait kehendak Allah). Ar-Rahmān berarti Dzat yang memiliki rahmat luas, Ar-Raḥīm berarti Dzat yang menyampaikan rahmat itu kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Ibn ‘Utsaimīn, 1/150)
Nama Ar-Rahmān mengingatkan kita bahwa rahmat Allah mencakup segalanya, yaitu muslim maupun kafir, manusia maupun hewan, yang di langit maupun di bumi. Inilah rahmat umum Allah.
Nama Ar-Raḥīm menegaskan bahwa ada rahmat khusus yang hanya diberikan Allah kepada orang beriman: berupa hidayah, ampunan, keteguhan iman, husnul khātimah, dan surga.
Sadarilah bahwa tidak cukup kita hanya menikmati rahmat umum (sehat, rezeki, umur panjang). Yang harus kita kejar adalah rahmat khusus. Maka kita harus menjaga iman, memperbanyak amal shalih, dan menjauhi dosa agar layak mendapatkannya.
Meneladani sifat ini, seorang mukmin semestinya menjadi pribadi yang penyayang. Rasulullah ﷺ bersabda:
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاء
“Sayangilah makhluk di bumi, niscaya Dzat yang di langit akan menyayangimu.” (HR. at-Tirmiżī no. 1924, sahih)
Penjelasan Faedah dari Nama Ar-Rahmān Dan Ar-Rahīm
Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Badā’i‘ al-Fawā’id (1/24–25), beliau menjelaskan:
فَالرَّحْمٰنُ دَالٌّ عَلَى الصِّفَةِ وَهُوَ وَصْفُ الرَّحْمَةِ الْوَاسِعَةِ، وَالرَّحِيمُ دَالٌّ عَلَى الْفِعْلِ وَهُوَ إِيصَالُ تِلْكَ الرَّحْمَةِ إِلَى الْمَرْحُومِ، فَالْأَوَّلُ مَعْنَاهُ أَنَّهُ ذُو الرَّحْمَةِ، وَالثَّانِي مَعْنَاهُ أَنَّهُ فَاعِلُ الرَّحْمَةِ
“Ar-Rahmān menunjukkan pada sifat, yaitu sifat rahmat yang luas. Sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan pada perbuatan, yaitu menyampaikan rahmat itu kepada makhluk yang dirahmati. Maka Ar-Rahmān artinya: Dzat yang memiliki rahmat, sedangkan Ar-Raḥīm artinya: Dzat yang melaksanakan rahmat itu.”
Faedah :
Ar-Raḥmān menunjukkan kepada sifat Allah, yaitu rahmat-Nya yang luas dan tidak terbatas. Ini menegaskan bahwa Allah memiliki sifat rahmah yang sempurna, yang meliputi seluruh makhluk-Nya.
Ar-Raḥīm menunjukkan kepada fi‘il (perbuatan) Allah, yaitu Allah benar-benar menyampaikan rahmat itu kepada siapa yang Dia kehendaki, khususnya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Asmā’ul Ḥusnā terkadang ada yang menunjukkan kepada sifat, dan ada yang menunjukkan kepada perbuatan, dan bahkan ada yang mengandung keduanya.
Dengan nama Ar-Raḥmān, kita mengetahui bahwa rahmat Allah mencakup segala sesuatu: mukmin maupun kafir, manusia maupun hewan, yang hidup maupun yang mati, semuanya mendapatkan bagian dari rahmat Allah di dunia.
Menumbuhkan rasa tawakal kepada Allah dan optimisme, karena kita semua hidup di bawah naungan rahmat-Nya yang luas.
Dengan nama Ar-Raḥīm, kita memahami bahwa rahmat Allah akan lebih sempurna dan khusus bagi kaum mukminin, terutama di akhirat. Mereka mendapatkan maghfirah, pahala, dan surga-Nya.
Menumbuhkan rasa syukur dan dorongan untuk istiqamah dalam iman, agar senantiasa termasuk golongan yang mendapatkan rahmat khusus itu.
Allah tidak hanya memiliki sifat rahmat secara abstrak, tetapi Allah juga menampakkan dan menyalurkan rahmat itu kepada makhluk-Nya.
Perbedaan sifat Allah dengan makhluk. Ada manusia yang memiliki sifat kasih, tetapi belum tentu bisa merealisasikannya. Sedangkan Allah, Dia memiliki sifat rahmat sekaligus melaksanakannya dengan sempurna.
Mengetahui bahwa Allah Maha Pemilik Rahmat (Ar-Raḥmān) dan Maha Pemberi Rahmat (Ar-Raḥīm) membuat seorang hamba semakin dekat kepada Allah dengan dua hal :
√ Ma‘rifah (pengenalan hati) : mengenal sifat rahmat Allah.
√ Amal (tindakan nyata) : beramal saleh agar mendapatkan rahmat khusus Allah di akhirat.
Hal ini menjadikan ilmu tentang Asmā’ul Ḥusnā tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berlanjut pada refleksi diri dan amal nyata.
Ketika seorang hamba memanggil Allah Ta’ala dengan nama Ar-Rahmān, ia sedang berharap pada keluasan rahmat Allah yang meliputi segalanya. Tapi ketika memanggil Allah dengan nama Ar-Raḥīm, ia memohon agar rahmat itu sampai kepadanya secara khusus.
Imam Al-Ghazālī رحمه الله dalam al-Maqṣad al-Asnā fī Sharḥ Ma‘ānī Asmā’illāh al-Ḥusnā (hlm. 48), beliau menjelaskan :
الرَّحْمٰنُ هُوَ الْمُنْعِمُ بِنِعَمِ الدُّنْيَا عَلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ مُؤْمِنِهِمْ وَكَافِرِهِمْ، وَالرَّحِيمُ هُوَ الْمُنْعِمُ بِنِعَمِ الْآخِرَةِ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ خَاصَّةً
“Ar-Rahmān adalah Dzat yang menganugerahkan nikmat dunia kepada seluruh makhluk-Nya, baik mukmin maupun kafir. Sedangkan Ar-Raḥīm adalah Dzat yang menganugerahkan nikmat akhirat kepada orang-orang beriman saja.”
Faedah :
Nama Ar-Raḥmān menegaskan bahwa Allah memberi nikmat dunia kepada semua makhluk, tanpa membedakan antara mukmin dan kafir.
Menumbuhkan kesadaran universal bahwa semua manusia dan makhluk hidup mendapat bagian dari rahmat Allah, sehingga seorang hamba terdorong untuk rendah hati dan tidak sombong, karena nikmat dunia bukanlah tanda kemuliaan khusus di sisi Allah.
Nama Ar-Raḥīm menunjukkan bahwa rahmat Allah di akhirat hanya diberikan kepada hamba-hamba yang beriman.
Menumbuhkan motivasi besar untuk menjaga iman, karena iman adalah syarat agar mendapat rahmat Allah yang sejati dan abadi di akhirat.
Nikmat dunia (makanan, kesehatan, rezeki, kekuasaan) bersifat sementara, fana, dan bisa dinikmati oleh siapa saja. Nikmat akhirat (ampunan, keridhaan, surga) bersifat kekal, mulia, dan hanya untuk orang beriman.
Mengingatkan kita agar tidak tertipu dengan nikmat dunia, tetapi menjadikannya sarana menuju kenikmatan akhirat.
Allah memberikan dunia secara umum sebagai ujian, namun balasan akhirat disesuaikan dengan iman dan amal hamba-Nya.
Seorang hamba akan melihat bahwa syariat Allah penuh keadilan dan hikmah, tidak zalim kepada siapapun.
Seorang mukmin mendapatkan dua keistimewaan: rahmat Allah di dunia (seperti kesehatan, rezeki, dll.) dan rahmat Allah di akhirat (ampunan dan surga).
Menumbuhkan syukur atas nikmat dunia, dan harapan besar untuk meraih rahmat akhirat dengan memperbanyak amal saleh.
Jika ingin mendapatkan rahmat akhirat, maka kita harus berada di jalan iman, bukan sekadar menikmati rahmat umum di dunia.
اللَّهُمَّ يَاالرحْمٰنُ يَاالرحِيمُ، اجْعَلْنَا مَرْحُومِينَ بِرَحْمَتِكَ الْخَاصَّةِ، وَأَلْهِمْنَا طَاعَتَكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَاجْمَعْنَا فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ بِرَحْمَتِكَ
“Ya Allah, wahai Ar-Raḥmān, wahai Ar-Raḥīm, jadikanlah kami termasuk hamba yang mendapatkan rahmat khusus-Mu, ilhamkan kepada kami ketaatan kepada-Mu, tutup usia kami dengan husnul khātimah, dan kumpulkan kami di surga penuh kenikmatan dengan rahmat-Mu.”
Setelah kita merenungi makna Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm, tidakkah hati kita bergetar menyadari betapa luas rahmat-Nya? Rahmat yang meliputi seluruh makhluk tanpa terkecuali, yang dengannya kita dapat bernafas, makan, dan hidup hingga detik ini. Namun ada rahmat yang lebih istimewa, yang Allah simpan khusus bagi hamba-hamba-Nya yang beriman—rahmat yang akan menyelamatkan kita pada hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya.
Maka janganlah kita menunda untuk kembali kepada Allah. Jangan sampai kita tertipu dengan nikmat dunia, lalu kehilangan rahmat khusus di akhirat. Bukalah pintu hati dengan taubat, hiasi amal dengan ikhlas, dan basahilah lisan dengan dzikir. Karena siapa yang mengetuk pintu rahmat Allah dengan penuh ketundukan, niscaya pintu itu akan dibukakan selebar-lebarnya.
Ya Ar-Raḥmān, limpahkanlah rahmat-Mu kepada kami. Ya Ar-Raḥīm, masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu yang abadi bersama orang-orang shalih.
Marāji‘ :