Jumat, 03 Apr 2026
  • Selamat Datang di Official Website PONDOK PESANTREN IBNU ABBAS WIRADESA Berakreditasi A © 2025 All Rights Reserved.

KHAUF (RASA TAKUT) & ROJA’ (RASA HARAP)

KHAUF (RASA TAKUT) & ROJA' (RASA HARAP)

KHAUF (RASA TAKUT) & ROJA’ (RASA HARAP)

Keseimbangan antara Busyra dan Wa‘īd dalam Tarbiyah Iman

(Telaah Surah al-Ḥijr ayat 49–50)

Budi Harjo Abu Ilyasa

 

Allah Ta’ala berfirman :

 

 نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٤٩) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ (٥٠)

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. al-Ḥijr [15]: 49–50)

 

  1. Pendahuluan

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling dalam dalam menggambarkan keseimbangan antara rahmat dan keadilan Allah, antara busyra (kabar gembira) dan wa‘īd (peringatan atau ancaman).

Dua sifat agung Allah — al-Ghafūr ar-Raḥīm dan asy-Syadīdul ‘Iqāb — digandengkan untuk mendidik hati agar berjalan di antara rasa harap (roja’) dan takut (khauf).

 

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata dalam madārij as-sālikīn, 1/519 :

 

 القَلْبُ فِي سَيْرِهِ إِلَى الله بَيْنَ جَنَاحَيْنِ، جَنَاحِ الرَّجَاءِ وَجَنَاحِ الخَوْفِ، فَإِذَا اسْتَوَيَا اسْتَقَامَ الطَّيَرَانُ، وَإِذَا نَقَصَ أَحَدُهُمَا وَقَعَ العَبْدُ فِي التَّقْصِيرِ أَوِ القُنُوطِ.

“Hati seorang hamba dalam perjalanannya menuju Allah bagaikan burung yang terbang dengan dua sayap: sayap harapan dan sayap takut. Jika keduanya seimbang, maka ia akan terbang lurus; namun jika salah satunya rusak, ia akan jatuh dalam kelalaian atau keputusasaan.” (Madarij as-Salikin, 1/519)

  1. Tafsir dan Penjelasan Ayat

 

  1. Tafsir al-Ṭabarī

Imam ath-Ṭabarī menjelaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya dua hal besar :

 

 يَقُولُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الَّذِي أَغْفِرُ الذُّنُوبَ لِمَنْ تَابَ، وَأَنِّي أَنَا الرَّحِيمُ بِمَنْ أَقْبَلَ عَلَيَّ، وَأَنَّ عَذَابِي شَدِيدٌ بِمَنْ أَقَامَ عَلَى مَعْصِيَتِي وَكَفَرَ بِي.

“Allah Ta‘ālā berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ: Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku-lah yang mengampuni dosa bagi siapa yang bertaubat, dan Aku-lah Yang Maha Penyayang terhadap siapa yang kembali kepada-Ku. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku amatlah keras bagi siapa yang tetap bertahan di atas maksiat kepada-Ku dan kafir kepada-Ku.” (Tafsīr ath-Ṭabarī, 17/97)

Allah memerintahkan Nabi ﷺ agar mengabarkan dua hal besar kepada hamba-hamba-Nya yaitu rahmat dan ampunan bagi yang kembali, serta azab yang keras bagi yang tetap mendurhakai.

Jadi, nabbi’ ‘ibādī (نَبِّئْ عِبَادِي) mengandung makna tarbiyah, agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah, namun juga tidak merasa aman dari azab-Nya.

 

  1. Tafsir Ibn Katsīr

Ibnu Katsir berkata :

 

 يُخْبِرُ تَعَالَى عِبَادَهُ أَنَّهُ ذُو مَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ لِمَنْ تَابَ إِلَيْهِ وَأَنَابَ، وَأَنَّ عَذَابَهُ شَدِيدٌ أَلِيمٌ لِمَنْ خَالَفَ أَمْرَهُ وَكَذَّبَ رُسُلَهُ.

“Allah memberitahu hamba-hamba-Nya bahwa Dia memiliki ampunan dan rahmat bagi siapa yang bertaubat dan kembali kepada-Nya, namun azab-Nya amat pedih bagi siapa yang menentang perintah-Nya dan mendustakan rasul-rasul-Nya.” (Tafsīr Ibn Katsīr, 4/520)

 

Ibnu Katsir menegaskan bahwa penggandengan dua ayat ini menunjukkan manhaj al-Qur’ān al-muwaāzan, yaitu metode Al-Qur’an yang menyeimbangkan antara targhīb (dorongan kepada rahmat) dan tarhīb (peringatan terhadap azab). Sehingga akan menumbuhkan sifat roja’ (mengharap rahmat) dan khauf (takut adzab) pada seorang hamba.

 

  1. Tafsir al-Qurṭubī

Al-Qurṭubī menyebut bahwa dua ayat ini merupakan puncak kelembutan Allah dalam mendidik hamba-hamba-Nya :

 

جَمَعَ الله  فِي هَذِهِ الآيَةِ بَيْنَ الْوَعْدِ وَالْوَعِيدِ، لِيَكُونَ الْعَبْدُ بَيْنَ الخَوْفِ وَالرَّجَاءِ، لَا يَأْمَنُ مَكْرَ الله وَلَا يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَتِهِ

“Allah telah menggabungkan dalam ayat ini antara janji (al-wa‘du) dan ancaman (al-wa‘īd), agar seorang hamba berada di antara rasa takut dan harap; tidak merasa aman dari makar Allah, dan tidak pula berputus asa dari rahmat-Nya.” (al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, 10/49)

 

Allah menggabungkan janji dan ancaman agar seorang hamba tidak merasa aman dari makar Allah, dan juga tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Ini menunjukkan keseimbangan sempurna dalam metode Al-Qur’an dalam membina hati manusia. Seorang mukmin sejati selalu berjalan di antara dua sayap hati yaitu sayap roja’ (harapan kepada rahmat Allah) dan sayap khauf (takut akan azab dan kemurkaan-Nya).

Jika hanya terpaut pada harapan tanpa rasa takut, ia bisa terjerumus dalam kelalaian dan ghurūr (tertipu oleh amalnya sendiri). Namun jika hanya tenggelam dalam rasa takut tanpa harapan, ia akan jatuh dalam keputusasaan dan su’uzan kepada Allah.

Maka Allah, dengan rahmat dan hikmah-Nya, menggabungkan al-wa‘du dan al-wa‘īd agar hati tetap hidup, seimbang, dan tunduk di hadapan-Nya, senantiasa berharap kepada kasih sayang-Nya, namun tetap berhati-hati dari murka-Nya.

 

III. Hikmah Penggandengan Busyra dan Wa‘īd

 

  1. Tarbiyah Imaniah yang Seimbang

Busyra (بشرى) menumbuhkan raja’ (harapan) dan husnuzan kepada Allah, sementara Wa‘īd (وعيد) menumbuhkan khauf (rasa takut) dan wara‘ dari maksiat. Tanpa busyra, hati akan kering dan mudah berputus asa. Tanpa wa‘īd, hati akan sombong dan merasa aman dari murka Allah.

Maka keseimbangan antara keduanya adalah kesehatan jiwa seorang mukmin. Busyra ibarat air yang menumbuhkan semangat amal dan cinta kepada Allah, sedangkan wa‘īd ibarat pagar yang menjaga langkah agar tidak keluar dari batas ketaatan.

Bila seorang hamba memadukan keduanya, ia akan berjalan menuju Allah dengan hati yang penuh cinta namun penuh takut, penuh harap namun penuh kewaspadaan, inilah keadaan hati para salihin yang disebut oleh Ibnul Qayyim :

 

 القَلْبُ فِي سَيْرِهِ إِلَى الله بَيْنَ جَنَاحَيْنِ، جَنَاحِ الخَوْفِ وَجَنَاحِ الرَّجَاءِ.

“Hati dalam perjalanannya menuju Allah berada di antara dua sayap: sayap takut dan sayap harap.” (Madarij as-Salikin, 1/519)

 

  1. Penggandengan Ini Adalah Metode Qur’an

Allah sering menggandeng antara janji dan ancaman, seperti dalam ayat:

 

 نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيم

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. al-Ḥijr [15]: 49–50)

 

 

Dalam ayat lain :

 

 إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيم

“Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-A‘rāf: 167)

 

Metode ini menunjukkan bahwa Allah mendidik hamba dengan dua menggabungkan dua macam metode, agar tidak ada yang merasa aman dari makar Allah dan tidak pula berputus asa dari rahmat-Nya.

 

  1. Keseimbangan antara “Targhīb” dan “Tarhīb”

Ibnul Qayyim berkata :

 

 فَصَلاحُ القَلْبِ فِي أَنْ يَكُونَ خَائِفًا رَاجِيًا، وَلَا يَغْلِبُ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ.

“Kebaikan hati tergantung pada keseimbangan antara rasa takut dan harap, tanpa didominasi oleh salah satunya.” (al-Fawā’id, hal. 120)

 

Keseimbangan antara targhīb (dorongan melalui kabar gembira) dan tarhīb (peringatan melalui ancaman) merupakan prinsip penting dalam tazkiyah al-qulūb (penyucian hati) dan pendidikan iman.

Jika seorang hamba hanya fokus pada targhīb, maka ia akan cenderung merasa aman dari makar Allah, sebagaimana firman-Nya :

 

 فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا القَوْمُ الخَاسِرُونَ

“Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf : 99)

 

Sebaliknya, jika hanya dikuasai oleh tarhīb, maka ia bisa terjerumus pada keputusasaan dan kehilangan semangat untuk kembali kepada Allah, padahal Allah berfirman :

 

 إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا القَوْمُ الكَافِرُون

“Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

 

Maka, keseimbangan antara raja’ dan khauf menjadikan hati hidup, lembut, dan terus berada di jalan lurus. Hati yang seimbang antara keduanya akan berharap pahala Allah tanpa berani bermaksiat, dan takut kepada hukuman-Nya tanpa berputus asa dari ampunan-Nya.

 

  1. Aplikasi dalam Kehidupan dan Pendidikan

 

  1. Dalam ibadah
  • Berharap diterima amalnya (busyra), namun takut amalnya tertolak (wa‘īd).
  • Menumbuhkan keikhlasan dan ketundukan.

 

Kedua perasaan ini menumbuhkan الإخْلَاصَ وَالخُضُوعَ — keikhlasan dan ketundukan — dalam beribadah kepada Allah. Sebab, orang yang hanya berharap tanpa takut akan cenderung ghurūr (tertipu oleh amal), sedangkan yang hanya takut tanpa berharap akan mudah putus asa.

Allah ﷻ berfirman tentang sifat hamba-Nya yang shalih :

 

 يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan harap.” (QS. as-Sajdah : 17)

Inilah keseimbangan yang melahirkan ibadah yang hidup bukan sekadar gerakan jasad, tetapi gerak hati yang penuh kesadaran dan pengharapan kepada Allah.

Maka, seorang hamba yang shalat, berpuasa, bersedekah, dan beramal saleh hendaknya selalu mengiringinya dengan doa dan rasa khawatir, sebagaimana firman Allah ﷻ :

 

 وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan (amal mereka) dengan hati yang takut, karena mereka yakin akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. al-Mukminun : 60)

 

  1. Dalam dakwah dan pendidikan santri

Dalam berdakwah dan mendidik santri, keseimbangan antara targhīb (dorongan dengan kabar gembira) dan tarhīb (peringatan dengan ancaman) merupakan kunci keberhasilan pembinaan hati.

Tidak cukup hanya dengan menakut-nakuti dan memberi ancaman (tarhīb), tetapi harus disertai dengan dorongan dan kabar gembira (targhīb), agar hati terbuka dan lembut dalam menerima peringatan Allah.

Nabi ﷺ bersabda :

 بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا، وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا

“Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari; mudahkanlah, jangan persulit.” (HR. al-Bukhārī, no. 69; Muslim, no. 1732)

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang pendidik (murabbi) dan da‘i hendaknya menyampaikan kebenaran dengan kelembutan, kasih sayang, dan harapan, bukan dengan kekerasan atau ancaman yang berlebihan.

Rasulullah ﷺ berhasil menanamkan iman di hati para sahabat bukan hanya dengan ancaman neraka, tetapi juga dengan bisyārāt al-jannah (kabar gembira tentang surga), sehingga hati mereka terpaut antara khauf dan raja’ — takut akan murka Allah, namun penuh harap terhadap rahmat-Nya.

 

  1. Dalam tazkiyatun nafs

Dalam perjalanan membersihkan jiwa dan menumbuhkan keikhlasan, seorang hamba sangat membutuhkan keseimbangan antara بُشْرَى (busyra) dan وَعِيد (wa‘īd).

 

 فَبُشْرَى تُنَمِّي فِي القَلْبِ رَجَاءً يَدْفَعُهُ إِلَى العَمَلِ، وَالوَعِيدُ يُنَبِّهُهُ وَيَحْفَظُهُ مِنَ الغُرُورِ وَالاعْتِمَادِ عَلَى النَّفْسِ.

“Busyra menumbuhkan dalam hati harapan yang mendorong untuk beramal, sedangkan wa‘īd menyadarkan dan menjaga dari sikap tertipu oleh amal dan merasa cukup dengan diri sendiri.”

 

Jiwa manusia cenderung condong kepada kemalasan ketika tidak ada dorongan harapan, dan mudah terjerumus dalam kesombongan ketika merasa aman dari ancaman. Karena itu, tazkiyatun nafs yang benar adalah dengan terus menghidupkan dua rasa utama dalam hati: khauf dan raja’.

Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan :

 

 مَنْ عَبَدَ الله بِالحُبِّ وَحْدَهُ فَهُوَ زِنْدِيقٌ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالخَوْفِ وَحْدَهُ فَهُوَ حَرُورِيٌّ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالرَّجَاءِ وَحْدَهُ فَهُوَ مُرْجِئٌ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالحُبِّ وَالخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فَهُوَ المُؤْمِنُ المُوَحِّدُ.

“Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan cinta, ia zindiq; yang hanya dengan takut, ia khawarij; yang hanya dengan harapan, ia murji’; dan yang beribadah dengan cinta, takut, dan harapan sekaligus — dialah mukmin yang bertauhid.” (Madarij as-Salikin, 1/520)

 

Maka, dalam penyucian jiwa, busyra berperan sebagai cahaya penggerak amal, sedangkan wa‘īd berperan sebagai penjaga hati dari kegelapan ujub dan ghurūr.

Hati yang bersih adalah hati yang berharap tanpa merasa aman, dan takut tanpa berputus asa — hati yang senantiasa hidup antara rahmat dan keagungan Allah.

 

  1. Penutup dan Refleksi Ruhani

Ayat ini menuntun kita untuk mengenal Allah dengan dua sisi sifat-Nya :

  • Maha Lembut dan Maha Penyayang terhadap hamba yang kembali.
  • Maha Tegas terhadap hamba yang mendurhakai.

Imam Ibnul Qayyim berkata :

 

 العَبْدُ يَسِيرُ إِلَى الله بَيْنَ مُشَاهَدَةِ المِنَّةِ وَمُطَالَعَةِ الجِنَايَةِ.

“Seorang hamba berjalan menuju Allah antara menyaksikan nikmat (yang menumbuhkan cinta) dan melihat dosa (yang menumbuhkan takut).” (Madarij as-Salikin, 1/519)

 

Makna yang sangat halus dari ucapan Ibnul Qayyim ini menggambarkan keseimbangan spiritual seorang mukmin dalam menapaki jalan menuju Allah.

Ketika ia melihat nikmat dan karunia Allah, hatinya dipenuhi cinta dan syukur, sehingga ia terdorong untuk beramal.

Namun ketika ia mengingat dosa dan kelemahannya, hatinya tunduk dan takut, sehingga ia bertaubat dan kembali kepada Allah dengan perasaan cemas.

 

Inilah hakikat perjalanan hati seorang mukmin — berjalan di antara cinta, harapan, dan takut, menuju ridha Allah ﷻ dengan penuh kesadaran akan nikmat dan kekurangan dirinya.

 

 

penulis
ADMIN PONDOK

Tulisan Lainnya

AR-RAHMĀN dan AR-RAHĪM
Oleh : ADMIN PONDOK

AR-RAHMĀN dan AR-RAHĪM

Nama Allah al-Malik
Oleh : ADMIN PONDOK

Nama Allah al-Malik

KEISTIMEWAAN ILMU AQIDAH
Oleh : ADMIN PONDOK

KEISTIMEWAAN ILMU AQIDAH

BAHAYA PENYAKIT HATI
Oleh : ADMIN PONDOK

BAHAYA PENYAKIT HATI

0 Komentar

KELUAR