Jumat, 03 Apr 2026
  • Selamat Datang di Official Website PONDOK PESANTREN IBNU ABBAS WIRADESA Berakreditasi A © 2025 All Rights Reserved.

KHUSYU’ DALAM SHALAT

KHUSYU' DALAM SHALAT

 KHUSYU’ DALAM SHALAT

بسم الله الرحمن الرحيم

Budi Harjo Abu Ilyasa

 

Segala puji bagi Allah yang menjadikan shalat sebagai tiang agama, penyejuk mata bagi orang-orang beriman, serta penolong disaat menghadapi kesulitan. Shalawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai sauri tauladan terbaik dalam munajat kepada Rabb al-Izzati wa al-Jalalah.

Betapa banyak kita mendirikan shalat, namun hati kita lalai. Lisan membaca, tubuh bergerak, tetapi pikiran berkelana. Padahal Allah tidak melihat sekadar bentuk luar shalat kita, melainkan bagaimana hati kita tunduk di hadapan-Nya.

 

Hakikat Khusyu’

Khusyu’ dalam shalat adalah hadirnya hati, tunduknya jiwa, dan tenangnya anggota badan di hadapan Allah ﷻ.

Inilah shalat yang dipuji Allah dalam firman-Nya:

قَدأَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, (yaitu) mereka yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Imam al-Qurṭubī رحمه الله menjelaskan:

الْخُشُوعُ فِي الصَّلَاةِ إِنَّمَا هُوَ حُضُورُ الْقَلْبِ بَيْنَ يَدَيِ الْمَوْلَى، وَتَذَلُّلُ الْجَوَارِحِ لِهَيْبَتِهِ وَعَظَمَتِهِ

“Khusyu’ dalam shalat adalah hadirnya hati di hadapan Allah, serta tunduknya anggota badan karena rasa takut dan agungnya Allah.” (Tafsīr al-Qurṭubī, 12/97)

Imam Ibnu Katsīr menjelaskan :

أَيْ سَاكِنُونَ فِيهَا مُتَوَاضِعُونَ، وَالْمُرَادُ بِالْخُشُوعِ: السُّكُونُ وَالطُّمَأْنِينَةُ وَالتَّأَنِّي، وَغَضُّ الْبَصَرِ، وَخَفْضُ الْجَنَاحِ

 

“Yakni mereka tenang dalam shalat, penuh tawadhu‘. Yang dimaksud dengan khusyu‘ adalah ketenangan, penuh ketentraman, perlahan, menundukkan pandangan, dan merendahkan diri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzīm, 5/498)

 

Mengapa Kita Sering Lalai?

Betapa banyak tubuh yang berdiri, namun hati sedang berkelana ke pasar, ke rumah, ke urusan pekerjaan, bahkan ke rencana-rencana duniawi yang tak pernah usai.

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

وَإِذَا قَامَ الْعَبْدُ فِي الصَّلَاةِ، قَامَ بَيْنَ يَدَيِ الله، فَإِنْ لَمْ يُقْبِلْ بِقَلْبِهِ عَلَيْهِ، صَرَفَ اللَّهُ قَلْبَهُ

أَوْ أَعْرَضَ عَنْه

(“Apabila seorang hamba berdiri dalam shalat, maka ia berdiri di hadapan Allah. Jika ia tidak menghadapkan hatinya kepada Allah, niscaya Allah akan palingkan hatinya, atau Allah berpaling darinya.” (Madarijus Sālikīn (1/521)

Lalai dalam shalat adalah tanda lemahnya rasa butuh seorang hamba kepada Rabbnya. Allah tidaklah melihat gerakan tubuh semata, tetapi yang lebih Allah lihat adalah hati. Maka, siapa yang hatinya berpaling, ia kehilangan hakikat shalat itu sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلاتِهِ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا

“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan… (sesuai kadar kekhusyukannya).” (HR. Abu Dāwud no. 796, dinyatakan hasan oleh al-Albānī)

 

Maka, orang yang shalat dengan hati lalai hakikatnya hanya menyisakan gerakan tanpa ruh, bacaan tanpa rasa, dan doa tanpa pengharapan. Shalat seperti itu sah secara hukum, tetapi ia tidak akan mampu mengangkat derajat dan menenangkan jiwa.

 

Shalat yang benar adalah ketika dunia hilang dari hati, digantikan rasa rindu dan takut kepada Allah, hingga seorang hamba benar-benar berdiri seakan-akan ia melihat-Nya.

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

والصَّلَاةُ لَهَا رُوحٌ وَبَدَنٌ، فَبِدَنُهَا الْقِيَامُ وَالْقُعُودُ وَالرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ، وَرُوحُهَا حُضُورُ الْقَلْبِ وَالْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ

“Shalat itu memiliki ruh dan badan. Badannya adalah berdiri, duduk, ruku’, dan sujud. Sedangkan ruhnya adalah hadirnya hati dan menghadapkan diri kepada Allah.” (Al-Wābil al-Ṣayyib, hlm. 34)

Tanpa ruh, shalat hanya sekadar gerakan kosong. Jika seseorang melakukan shalat tanpa khusyu’, maka shalatnya bagaikan tubuh tanpa jiwa, hanya nampak gerakan saja tapi hakikatnya gersang dan kering karena tanpa kehadiran hati.

Hati yang hadir merasakan bahwa ia sedang berdiri di hadapan Allah. Jiwa yang tunduk, penuh rasa takut dan harap. Inilah inti shalat, yang menjadi penentu diterimanya ibadah.

Ibnul Qayyim رحمه الله juga menambahkan dalam As-Salāt wa Hukmu Tārikiha:

فالصَّلَاةُ بِغَيْرِ خُشُوعٍ وَلَا حُضُورِ قَلْبٍ كَجَسَدٍ لَا رُوحَ فِيهِ، وَإِنْ سَقَطَتْ عَنْهُ الْإِعَادَةُ فَلَا يَسْقُطُ عَنْهُ فَوَاتُ الْكَمَالِ الَّذِي هُوَ رُوحُهَا وَسِرُّهَا

“Shalat tanpa khusyu’ dan tanpa kehadiran hati itu seperti jasad yang tidak ada ruhnya. Meskipun gugur kewajiban (tidak perlu diulang), namun ia kehilangan kesempurnaan yang merupakan ruh dan rahasia shalat.”

Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib halaman 15 menjelaskan :

وَكَذَلِكَ فَوْتُ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ، وَحُضُورُ الْقَلْبِ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الَّذِي هُوَ رُوحُهَا وَلُبُّهَا، فَصَلَاةٌ بِلا خُشُوعٍ وَلَا حُضُورٍ كَبَدَنٍ مَيِّتٍ لَا رُوحَ فِيهِ …

“Demikian pula hilangnya khusyu’ dalam shalat, dan hadirnya hati di dalamnya di hadapan Rabb Tabāraka wa Ta‘ālā—yang merupakan ruh dan inti shalat—(menjadikan) shalat tanpa khusyu’ dan tanpa kehadiran hati itu seperti jasad mati yang tidak ada ruhnya …”

Shalat tanpa khusyu’ hanya menggugurkan kewajiban, belum tentu mendatangkan pahala sempurna. Seperti seseorang yang memberi hadiah tanpa ketulusan, hadiah itu sampai, tapi tidak bernilai di sisi penerima. Shalat yang khusyu’lah yang benar-benar mengangkat derajat dan menjadi penyejuk dan penenang bagi orang yang beriman.

 

Ibnu Qayyim juga memberi perumpamaan indah :

مَثَلُ مَنْ صَلَّى وَلَمْ يَخْشَعْ فِيهَا، مَثَلُ مَنْ أَهْدَى إِلَى مَلِكٍ مَيِّتًا

“Perumpamaan orang yang shalat tanpa khusyu’, bagaikan orang yang menghadiahkan kepada raja sesuatu yang sudah mati.” (Madarij as-Salikin, 1/521)

Artinya, shalat tanpa ruh (khusyu’) tidak layak untuk dihadiahkan kepada Allah.

Jika khusyu’ adalah ruh shalat, maka hilangnya khusyu’ berarti hilangnya nilai hakiki shalat. Shalat bisa jadi banyak jumlahnya, tapi miskin kualitasnya.

Sebaliknya, meski singkat namun penuh kekhusyu’an, shalat itu menjadi cahaya, obat, dan ketenangan hati.

Al-Ḥasan al-Baṣrī رحمه الله mengingatkan:

كُلُّ صَلَاةٍ لَا يَحْضُرُ فِيهَا الْقَلْبُ فَهِيَ إِلَى الْعُقُوبَةِ أَقْرَبُ مِنْهَا إِلَى الْقَبُولِ

“Setiap shalat yang hati tidak hadir di dalamnya, maka ia lebih dekat kepada hukuman daripada kepada diterima.” (Tafsīr al-Qurṭubī, 12/97)

Shalat adalah perjumpaan dengan Allah. Gerakannya adalah jasad, khusyu’-nya adalah ruh. Jika kita hanya membawa jasad tanpa ruh, maka bagaimana shalat itu akan bermakna di sisi Allah?

Khusyu’ adalah kunci agar shalat menjadi penolong, penenang, dan penyelamat. Tanpa khusyu’, shalat hanyalah rutinitas, tapi dengan khusyu’, shalat menjadi pertemuan cinta antara hamba dan Rabb-nya.

 

Langkah-Langkah Meraih Khusyu’

  1. Ikhlas dan niat yang benar.

Menyadari bahwa shalat adalah perjumpaan dengan Allah, bukan sekadar rutinitas.

 

  1. Pahami bacaan shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:

“قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ…”

“Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian…” (HR. Muslim no. 395).

Artinya, saat Surat al-Fatihah kita baca, Allah menjawabnya, sehingga seakan-akan kita sedang berkomunikasi langsung dengan Allah Ta’ala, maka bagaimana mungkin hati kita akan lalai saat bermunajat langsung dengan Sang Pencipta ?

 

  1. Tundukkan pandangan dan hati.

Jangan biarkan mata dan pikiran berkelana. Pandanglah tempat sujud.

 

  1. Tenangkan diri sebelum shalat.

Imam al-Ghazālī رحمه الله berkata:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَقُمْ عَلَى طَرِيقِ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ، وَظُنَّ أَنَّهَا آخِرُ صَلَاةٍ تُصَلِّيهَا

“Jika engkau berdiri untuk shalat, berdirilah di atas jalan takut dan harap. Anggaplah itu shalat terakhir yang engkau lakukan.” (Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 1/160)

 

  1. Ingatlah mati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“صَلِّ صَلاةَ مُوَدِّعٍ”

“Shalatlah engkau seperti shalatnya orang yang hendak berpisah (dengan dunia).” (HR. Ibnu Mājah no. 4171, hasan)

 

Buah Manis Shalat Khusyu’

√ Hati menjadi tenang.

√ Jiwa terbentengi dari maksiat.

√ Dosa berguguran.

√ Hidup dipenuhi cahaya iman.

√ Doa lebih mudah dikabulkan.

 

Jika shalat—ibadah paling agung—kita lakukan tanpa hati, apa lagi ibadah lainnya? Jangan biarkan shalat kita hanya menjadi gerakan tanpa ruh. Mulailah dari sekarang, latih diri untuk menghadirkan hati, basahi lisan dengan bacaan penuh tadabbur, tundukkan jiwa dengan kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah Yang Maha Agung.

 

Semoga Allah jadikan kita termasuk hamba-Nya yang mendapatkan kebahagiaan melalui shalat, hingga saat berjumpa dengan-Nya nanti, kita datang dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang.

 

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ، وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)

penulis
ADMIN PONDOK

Tulisan Lainnya

Penyakit-Penyakit Hati
Oleh : ADMIN PONDOK

Penyakit-Penyakit Hati

AL-KHĀLIQ
Oleh : ADMIN PONDOK

AL-KHĀLIQ

Nama Allah al-Malik
Oleh : ADMIN PONDOK

Nama Allah al-Malik

BAHAYA PENYAKIT HATI
Oleh : ADMIN PONDOK

BAHAYA PENYAKIT HATI

0 Komentar

KELUAR