
ٱلْمَلِكُ Al-Malik ( )
Budi Harjo Abu Ilyasa
Nama Allah al-Malik (ٱلْمَلِك) adalah salah satu Asmāʼul Ḥusnā yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah atas segala sesuatu. Segala kerajaan langit dan bumi adalah milik-Nya. Tidak ada seorang pun yang bisa menandingi kekuasaan-Nya, karena Dia-lah pemilik hakiki dari segala kepemilikan. Allah tidak hanya menguasai, tetapi juga berhak penuh untuk memberi, mencabut, memuliakan, dan menghinakan siapa pun yang Dia kehendaki.
Allah ﷻ berfirman :
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ، وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ، وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ، وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran : 26)
Ayat di atas menegaskan bahwa segala bentuk kerajaan, kedudukan, dan kekuasaan hanyalah titipan dari Allah ﷻ, dan Dia-lah yang menentukan kepada siapa kekuasaan itu diberikan dan dari siapa kekuasaan itu dicabut. Dengan memahami nama al-Malik, seorang hamba dididik untuk tidak sombong dengan jabatan atau harta, serta menyadari bahwa semua itu hanyalah amanah yang suatu saat akan kembali kepada Allah ﷻ.
Untuk itu, mari kita menelusuri bagaimana Al-Qur’an menyebut nama agung ini, serta bagaimana para ulama tafsir dari generasi awal hingga muta’akhkhirīn menjelaskan kedalaman maknanya.
Dalil dari Al-Qur’an
Allah ﷻ berfirman :
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۗ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada ilah selain Dia, Tuhan ‘Arsy yang mulia.” (QS. al-Mu’minūn: 116)
Dan firman-Nya :
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Yang menguasai hari pembalasan.” (QS. al-Fātiḥah: 4)
Dalil dari Hadits
Rasulullah ﷺ membaca doa iftitah :
اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُك
“Ya Allah, Engkaulah al-Malik (Raja), tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah Rabbku, dan aku adalah hamba-Mu…” (HR. Muslim no. 771)
Dalam doa ini, Nabi ﷺ menyebut Allah sebagai al-Malik, yang menegaskan bahwa Allah-lah pemilik dan penguasa hakiki atas seluruh alam.
Penjelasan Para Ulama
Ath-Ṭabarī berkata :
الْمَلِكُ هُوَ الَّذِي لَهُ الْمُلْكُ وَالسُّلْطَانُ عَلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ، يَتَصَرَّفُ فِيهِمْ بِأَمْرِهِ وَنَهْيِهِ، وَقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ
“Al-Malik adalah Dzat yang memiliki kerajaan dan kekuasaan atas seluruh makhluk-Nya. Dialah yang mengatur mereka dengan perintah dan larangan-Nya, dengan ketetapan dan takdir-Nya.” (Tafsīr al-Ṭabarī, 18/116)
Al-Qurṭubī berkata :
الْمَلِكُ هُوَ الْمَالِكُ الْمُتَصَرِّفُ فِي خَلْقِهِ بِأَمْرِهِ وَنَهْيِهِ، وَلَا مَانِعَ لِحُكْمِه
“Al-Malik adalah Pemilik yang berkuasa, yang mengatur ciptaan-Nya dengan perintah dan larangan-Nya, dan tidak ada yang bisa menolak hukum-Nya.” (al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, 1/134)
Ibnu Katsīr menjelaskan ayat ‘Mālik Yaum ad-Dīn’ :
هُوَ الْمَلِكُ الْحَقُّ الَّذِي يَخْضَعُ لَهُ جَمِيعُ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَتَكَلَّمُ أَحَدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Dialah Raja yang sebenarnya, yang semua makhluk tunduk kepada-Nya pada hari kiamat, dan tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.” (Tafsīr Ibn Katsīr, 1/41)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata :
وَاسْمُ الْمَلِكِ يَتَضَمَّنُ كَمَالَ التَّصَرُّفِ وَالْقُدْرَةِ وَالنَّهْيِ وَالْأَمْرِ، وَأَنَّهُ لَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ مُلْكِهِ وَقُدْرَتِهِ
“Nama al-Malik mencakup kesempurnaan pengaturan, kekuasaan, larangan, dan perintah. Tidak ada satu pun yang keluar dari kerajaan dan kekuasaan-Nya.” (Badā’i‘ al-Fawāid, 1/162)
Makna Nama al-Malik
Kisah & Atsar Salaf tentang nama al-Malik
مَالِكِ يَوْمِ الدِّين
Kemudian beliau berkata :
نَفِقَ الْمُلُوكُ وَهَلَكَ الْجَبَابِرَةُ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ
“Para raja akan lenyap, para penguasa sombong akan binasa, dan tidak ada yang tersisa kecuali Allah, Raja yang sebenarnya.” (al-Qurṭubī, Tafsīr, 1/134)
يُنَادِي اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ؟
“Allah akan menyeru pada hari kiamat: ‘Akulah Raja, di manakah raja-raja bumi itu?’” (HR. al-Bukhārī, al-Tārīkh al-Kabīr, 8/85; dinukil al-Bayhaqī dalam al-Asmā’ waṣ-Ṣifāt, hlm. 64)
Ini menunjukkan bahwa kekuasaan para raja hanyalah semu, sedangkan kekuasaan Allah kekal dan mutlak.
Al-Ḥasan al-Baṣrī رحمه الله berkata :
لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا اجْتَمَعُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَى ذَلِكَ، وَإِنَّمَا الْمَلِكُ اللَّهُ
“Seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan mampu melakukannya. Sesungguhnya Raja yang sebenarnya hanyalah Allah.” (Ibn Abī al-Dunyā, at-Tawakkul, hlm. 29)
Mujāhid رحمه الله berkata tentang ayat Mālik Yaum ad-Dīn :
يَفْنَى كُلُّ مَلِكٍ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلّ
“Setiap raja akan binasa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.” (Tafsīr Ibn Abī Ḥātim, 1/36)
Refleksi Jiwa